Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Muaq purami di pau Purami di poloa Daq leqba tia Soroq tammappasaqbi"
Bila kita sudah berucap Jika mulut sudah berbincang Jangan sampai mencoba diri Surut menghilang tanpa pamit
CERPEN
Surat Untuk Presiden
SulbarDOTcom - Surat Untuk Presiden


 Penulis
: ST. RAODAH
 Kamis, 17 Desember 2015 19:37:56  | Dibaca : 656 kali
 
Sulbar.com - Jalan setapak kerap kali aku lalui untuk sampai di kota seberang mengais rejeki dengan berjualan koran di sisi lampu stopan rambu lalulintas.

"Koran... koran... korannya pak, ini baru terbit hari ini".
"Beritanya masih hangat pak".

Lagi-lagi mereka mengacuhkanku dengan menutup kaca mobil seraya tak ingin mendengarkanku menawarkan koran untuknya. Terkadang pula ada yang sampai mengeluarkan kata-kata yang kurang kasar dan menyakitkan. Walaupun kerap kali aku sedih dengan hinaan yang dilontarkan untukku. Namun keinginan dan semangatku tetap saja berkobar.

Sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang anak yang hidup dengan serba kekurangan itulah keluargaku. Untuk makan saja susah apalagi untuk bersekolah. Aku anak paling bungsu dari lima bersaudara. Ke empat saudaraku hanya lulusan Sekolah Dasar, akan tetapi mereka sekarang sudah mencari uang sendiri dengan penghasilan minim dibawah rata-rata. Tinggal aku yang bersekolah. Walaupun bapak dan ibu tidak punya uang menyekolahkanku, tetap saja aku ingin bersekolah. Aku meyakinkan mereka kalau kelak aku bisa merubah hidup menjadi lebih baik.

Mencari uang dari hasil berjualan koran adalah cara yang kulakukan agar tetap bisa membiayai sekolah. Bapak dan ibu sering menyuruhku berhenti sekolah. Katanya sekolah itu habisin uang. Mending uangnya buat makan sehari-hari. Saudara-saudaraku kerap kali menyuruhku untuk berhenti sekolah. Untuk kesekian kalinya aku berceloteh layaknya seorang yang sudah pasti akan sukses. Mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.

***

Kami tinggal di rumah kardus yang berukuran kecil di bantaran sungai mati yang telah lama tak dihiraukan. Sebagaimana nasib sungai tak terhiraukan oleh pemerintah yang penuh dengan sampah, warna hitam layaknya comberan dan mengeluarkan bau yang tak sedap. Mau bagaimana lagi. Bapak dan ibu hanya mampu membeli tanah di bantaran sungai kotor itu. Gubuk kecil dari kardus bekas dirangkai menjadi bangunan layaknya rumah tempat istirahat kala malam tiba.

Tak jarang aku membantu bapak membangun kembali gubuk ketika gubuk kami roboh oleh terpaan hujan yang turun disertai angin kencang.
Rasa sedih semakin menggebu dalam diriku. Ingin rasanya kusulap gubuk kami jadi istana megah presiden. Jika hujan tiba tak roboh lagi.

“Mimpi hanya sekedar mimpi.”
“ Bagaimana bisa kusulap gubuk ini jadi istana megah. Bekerja saja terkadang tidak mendapatkan uang.” ucapku dalam hati.

Pukul 21: 00 tepat aku pulang dari bekerja tiba-tiba kulihat ibu menangis sendirian di dekat gang jalan menuju rumah kami. Dengan sigap aku berlari menghampiri ibu. “Ibu kenapa menangis?” tanyaku kepada ibu.
“Rumah kita nak, rumah kita.” Tangkas ibu
“Ada apa dengan rumah kita bu...?
"Rumah kita diratakan dengan tanah. Digusur nak. Kita tidak punya tempat tinggal sekarang," jawab ibu yang terus saja menangis.

Rasa kesal dalam jiwaku tak lagi tertahankan. Aku berlari menuju gubuk kami diikuti oleh ibu yang terus saja melarangku. Namun tak kuhiraukan. Setibanya di gubuk, kulihat banyak warga yang juga digusur rumahnya menagis ada juga yang kesal dengan mengeluarkan kata-kata makian untuk para pejabat pemerintah yang tak punya hati.

Nasi sudah menjadi bubur. Bagaimana tidak. Gubuk kami telah hancur lalu dibakar oleh mereka yang sama sekali tidak memiliki hati. Aku,keluarga dan para warga mencari tempat tinggal sementara. Baru saja kami berjalan melewati jalan kota dekat gang kami, ribuan cacian dan makian telah mengerumuni telinga kami. Mereka kira kami akan menumpang di rumahnya. Beberapa kali kukuatkan hati warga kuhibur dengan guyonan, kusampaikan pula agar tidak usah menghiraukan kata-kata yang kurang berkenan dari orang yang tidak memiliki hati.

Di sela perjalanan, tanpa sengaja mataku melihat satu jembatan besar yang di bawahnya ada ruang kosong. Kuhentikan langkah para warga kuajak untuk melihat ruang kosong itu. Syukur alhamdulillah ternyata kolong jembatan itu bisa kami tempati sementara sampai kami semua mendapatkan kembali tempat tinggal. Masing-masing warga membersihkan tempat yang mereka pilih untuk tidur malam ini. Berlapis kardus bekas mereka menidurkan anaknya.

Semua keluargaku juga sudah terlelap, tinggal aku yang belum tidur.  Suasana panas dari dalam kolong jembatan membawa kakiku berjalan keluar untuk sekedar mencari angin. Langkahku terhenti ketika kulihat mereka semua yang terlelap dalam tidurnya ditemani bau tak sedap dan gigitan nyamuk.

Kuambil selembar kertas putih dengan pena hitam dari tas kecilku. Kuutarakan semua keluh kesahku diatas kertas putih tanpa noda. Kutagih janji yang lontarkan dengan kata-kata manis darinya. Untuk suara kami mereka bersuara. Sedikitpun keluh kesah kami tak pernah ia rasakan. Sekedar bela sungkawa pun tak pernah terngiang dikuping kami. Mereka terlalu nyaman dengan istana yang megah tanpa memikirkan istana kami yang tebuat dari kardus bekas. Ketika angin dan hujan tiba istana kami roboh seketika. Kami bukan orang bodoh yang diam begitu saja lantaran janji teringkari.
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : ST. RAODAH

Mahasiswi Program Studi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Al Asyariah Mandar.

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 546,180

web server monitoring service RSS