Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Takkalai di sobalang Dotai lele ruppu Dadi nalele Tuali di labuang."
Sekali bahtera layar terkembang Karam dan hancur tak kuhiraukan Asal tidak gempar terseriar Balik surut ke pangkalan semula
ULASAN
Polemik Fenomena LGBT
SulbarDOTcom - Polemik Fenomena LGBT


 Penulis
: MUH FADHOL TAMIMY
 Minggu, 28 Februari 2016 09:22:34  | Dibaca : 798 kali
 
Sulbar.com -

Membuka sosial media hari ini saya disibukkan dengan beragam isi cuitan pada timline twitter dan facebook ataupun link yang membahas fenomena LGBT. Bahkan media televisi hingga cetak pun tak ingin ketinggalan untuk meraup rating dari hegemoni pemberitaan mengenai LGBT. Dahulu sebelum isu ini merebak, saya sempat mengabaikan apa yang namanya LGBT tesebut, bahkan saya sempat mengira LGBT itu sejenis merek handphon baru yang lagi ngehits ala justin bieber atau lee min ho minum kopi gitu.

Namun setelah bebrapa hari ini, masalah LGBT semakin sering menjadi bahan perbincangan mengalahkan hits nya penggerebekan selingkuh warga. Memang bukan tanpa alasan LGBT menjadi heboh karena memang, hari ini persatuan gerakan bawah tanah tersebut kian menampakkan eksistensinya di belantika romansa percintaan indonesia, negeri seribu satu likers.

Mereka datang dengan membawa segala macam kontroversi dan pertentangan yang terkandung di dalamnya. Pertentangan yang di bawanya pun beraneka ragam macam seperti gado gado pinggir jalan. Mulai dari penyimpangan sosial, moral, ketidak sesuaian budaya hingga penyelewengan kronis tuntunan kodrat di semua agama, kecuali aliran sesat dan menyesatkan.

Sejarah dari munculnya hubungan sesama jenis telah terjadi semenjak ribuan tahun yang lalu, di era zaman nabi luth di semenanjung arab (dekat laut mati) dimana perilaku menyimpang “pedang-pedangan” ini mulai muncul. Dari kota wilayah ini lahir lah sebuah istilah sodomy. Di wilayah ini sekitar 4000 tahun yang lalu dikisahkan bahwa kota ini menyandang reputasi wilayah bagi kaum yang melegalkan berbagai penyimpangan seksual. Singkat cerita dalam kitab suci umat muslim, nasrani, maupun yahudi kota ini hancur dikarenakan murka Allah terhadap para penduduknya kecuali segelintir kecil orang yang beriman. Mereka hijrah meninggalkan kota, melalui petunjuk Allah dengan perantara malaikat yang menyamar menjadi manusia.

Sejarah dari kitab suci tersebut tentu mengandung sebuah makna, bahwa perilaku menyimpang tersebut membawa dampak buruk bagi sekitar maupun diri sendiri. Mari kita cermati dalam kasus elektronika percobaan kutub listrik. Maka kita akan melihat bahwa arus sesama jenis yang sengaja di persatukan seperti min dengan min ataupun kutub plus dengan plus, dapat mengakibatkan konsleting listrik bahkan mampu menimbulkan potensi kebakaran yang mengancam. Begitu juga hubungan sesama jenis yang dilakukan oleh manusia dapat berbahaya dan menimbulkan efek konsletnya nilai moral. Ataupun seks beresiko karena melakukan di "lokasi" yang tidak semestinya.

Perilaku kebanci-bancian ataupun kecendrungan sesama jenis ini, bukan cuma sekedar perilaku, namun hari ini kian menjurus ke arah perjuangan untuk melegalkan secara undang-undang. Dengan bermoduskan aksi penuntutan hak asasi manusia gaya liberal, serta menghembuskan isu terdiskriminasi secara lantang, mereka suarakan demi merebut iba masyarakat yang dilakukan oleh pentolan banci maupun lesbi.

Bahkan di beberapa media besar seperti Ko***s TV LGBT mendapatkan tempat. Hal ini terlihat manakala di satu edisi perdebatan yang ditayangkan secara live di hari Kamis, 11/2/2016 tersebut menggiring opini publik untuk pro LGBT. Sesi acara pembahasan pun terlihat tidak seimbang dimana narasumber yang di undang tidak merepresentasikan keseimbangan dalam pembahasan dimana terdapat 3 tokoh pro LGBT dan hanya 1 tokoh kontra LGBT. Perbincangan yang di lontarkan seolah semakin menggiring opini publik dimana presenter yang membawakan jalannya perbincangan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dukungan tersirat terhadap kaum LGBT.

Dengan gaya bahasa yang menohok ala penyidik, presenter tersebut tak mencoba untuk berfikir jika LGBT melanda keluarganya sepulang dari acara. Tentu akan sangat menarik jika sepulang dari acara, pasangan dan anak-anaknya berubah kecendrungannya menjadi seorang LGBT akut.

Setali 3 uang lembaga asing pun ikut berkoalisi menghancurkan moral bangsa ini secara perlahan lewat bantuan yang di gelontorkan oleh UNDP. Dari luar di rusak perlahan, dan dari dalam di grogoti lewat pencitraan. Semakin telak lah gerakan ini mulai menancapkan pengaruhnya demi mendapatkan gol pelegalan pernikahan sesama jenis dalam undang-undang.

Meredam bahaya kampanye yang dilakukan oleh gerakan melambai ini tentu butuh peran dari semua lini lapisan pemerintahan hingga masyarakat. Tayangan yang menampilkan citra kebanci-bancian dalam setiap konten sinetron hingga lawak sebaiknya untuk ditiadakan. Karena melalui lini audio visual ini masyarakat secara tidak langsung digiring untuk merasa familiar dan melumrahkan sifat kebanci-bancian.

Seorang tokoh tinju dunia yang juga merupakan calon anggota parlemen Fillipina, Many Paquiao bahkan dalam sesi wawancara menolak tegas gerakan LGBT tersebut di negaranya. Packman (sapaan akrabnya) menganalogikan bahwa hewan saja masih memilah-milih pasangan yang berbeda jenisnya untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Jika manusia tak mampu lagi memilah-milih pasangan penyaluran hasrat seksual dengan memilih pasangan sesama jenis, ini berarti mereka lebih hina dari hewan yang tak berakal.

Di luar dari masalah moral dan agama yang mendapatkan pertentangan, terdapat juga keresahan sosial yang sangat dikhawatirkan para kaum jomblowan dan jomblo wati masa kini. Ketakutan jika nanti jodoh mereka telah dikapling para penikmat nafsu sesama jenis, gay atau lesbian. Ketakutan jika nanti mbak tuminem atau pun mas gagah menolak cinta tulus dari paijo atau dek inem bukan karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Melainkan penolakan akibat cinta yang telah ikhlas ditambatkan pada sesama jenis.

Menilik fitrah seorang manusia yang diciptakan berpasang-pasangan dari sang pencipta, bukan berarti menjadi dalih pembenaran atas aksi cinta terlarang tersebut. Kecendrungan yang dirasa melenceng tersebut akan mampu diluruskan kembali kejalan yang benar jika menciptakan niat dari dalam diri sendiri. Jika niat tersebut enggan untuk diciptakan niscaya mustahil lepas dari belenggu kebiasaan seksual sesama jenis. Karena cinta yang dibangun sesuai fitrah manusia antara wanita dan pria lebih berfaedah untuk di bangun daripada cinta yang di bangun daripada kecendrungan sesama "pedang".

 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : MUH FADHOL TAMIMY

Mahasiswa Psikologi Universitas Mulawarman Esais dan Pemerhati Masalah Sosial Media

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 522,090

web server monitoring service RSS