Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Muaq tongano muane Pattandai mo-oq galung Nadiengei Sipettombangan cera."
Bila anda betul pahlawan Tunjukkanlah lokasi dan lapangan Akan di tempati Sama bergelimang di telaga darah
CERPEN
Palupi
SulbarDOTcom - Palupi


 Penulis
: DEWI BUMI
 Sabtu, 12 Maret 2016 19:34:47  | Dibaca : 981 kali
 
Sulbar.com - Seperti biasa. Sebelum naik ke atas panggung, Palupi selalu menjalankan ritual yang diajarkan oleh maha gurunya, si pengemis tua. Konon, ritual yang dilakukan Palupi sebelum meronggeng, dapat memancarkan auranya di atas panggung. Siapa pun lelaki yang melihat, pasti akan kepincut oleh bibir merahnya yang seolah bisa bergerak sendiri, membualkan rayuan. Dan, sedikit sekali lelaki yang dapat terhindar dari rayu Palupi bila sudah mencium aroma mulutnya. Palupi, tetap menjadi bintang di antara bintang malam yang berkelip di langit kelam. Menjadikan para pendambanya mabuk rindu ingin melihat bayangannya, menari di tengah semua kalangan. Menjanjikan keindahan dan kenikmatan duniawi yang tak terbendung.

Bagi orang awam, ritual Palupi tentu menjijikkan. Namun bagi Palupi, ritual sebelum pentas adalah kunci suksesnya di atas panggung. Palupi meyakini, bahwa dirinya akan tampak bersinar bila dia meminum air seninya sendiri, tiga sendok makan setiap kali hendak menari. Mulanya dia ingin muntah namun melihat kariernya sebagai penari ronggeng meroket setelah dia menuruti kata pengemis tua itu, lama-lama dia menikmati juga. Dalam benaknya dia berkata, "yah tidak apa-apa aku meminum air seniku sendiri, yang penting bukan air seni orang tua dungu itu!"

Kemudian Palupi akan naik ke atas pentas dengan percaya diri berlebih-lebih. Dengan pandangan mata lurus ke depan penuh keyakinan. Seyakin masa depannya yang cerah gemilang. Palupi menari. Tubuhnya berputar-putar diiringi suara gendang. Sampurnya dilempar ke sana ke mari dan dia banyak mendapat saweran. Betapa girang hati Palupi. Pundi-pundi uangnya menumpuk. Dan harga senyumnya semakin mahal. Bahkan hanya sekali pegang dagu saja, seorang lelaki rela menggadaikan motornya demi Palupi.

Tak banyak yang tahu kalau Palupi memiliki seorang dukun yang menyokong upayanya untuk menjadi super star. Mereka menganggap bahwa Palupi memang terlahir cantik seperti bidadari. Apa-apa yang dilakukan Palupi akan diikuti oleh para lelaki. Hal ini semakin membat Palupi lupa diri. Lupa dengan asal usulnya yang datang dari desa dan keluarga petani. Palupi, bahkan tega mematikan bapak emaknya hanya demi harga diri.

"Hmmm... Maha bintangku!" seorang lelaki tua bergumam di sisi panggung. Dia bongkok, kumal, dengan rambut gimbal, berdiri bertopang pada tongkat kayunya. Dia menatap Palupi lekat-lekat. Bau badan yang ditimbulkan membuat orang-orang di sekitarnya menutup hidung dan menyingkir. Lelaki tua itu begitu menikmati gemulai Palupi. Tak ada satu gerakan pun terlewat dari tatapannya. Sesekali, lelaki itu menelan ludah. Rupanya dia sangat puas atas apa yang telah dia perbuat atas diri Palupi. Jampi-jampinya manjur. Dan susuk emas yang dia selipkan di balik kelopak mata Palupi, sanggup menghipnotis puluhan penonton. Dengan dada berdebar, lelaki tua itu menunggu sampai pertunjukan selesai. Hingga, ketika dia menangkap bayangan tubuh Palupi masuk ke dalam bilik untuk berganti pakaiaan, dia akan menyelinap masuk, menyamar sebagai pengemis yang meminta sedekah kepada Palupi.

"Kau lagi!" kata Palupi ketus. Namun segera dia membuka pakaian dan membiarkan lelaki tua itu menikmati dirinya utuh. Lelaki tua itu terkekeh puas. Puas karena telah mengangkat Palupi sebagai seorang ronggeng ternama. Biduan paling sexi dan termahal di zamannya.

Palupi akan membasuh dirinya berulang-ulang setelah lelaki tua itu pergi. “Uh, menjijikkan!” umpatnya. Namun apa daya, Palupi masih membutuhkan dia untuk menaikkan pamor. “Awas, tunggu saja tanggal mainnya. Suatu saat nanti aku akan memasukkanmu ke dalam sumur tua!” rutuk Palupi geram.

Setiap Palupi harus melayani lelaki tua itu, rasanya dia ingin mencekik lehernya agar dia berhenti menggerayangi tubuh. Dia jijik dengan kotoran pada giginya. Dia jijik pada kulit kasarnya, pada rambutnya yang mirip keset di teras rumah. Suatu ketika, Palupi sungguh tidak tahan dan protes.

“Cukup, Pak tua!”

Pengemis tua itu kebingungan dan memandang lekat wajah Palupi.
“Apa maksudmu, cah ayu?” tangannya terjulur menjawil dagu Palupi yang segera mengelak sengit.

“Jangan sentuh aku, pak Tua! Tanganmu kotor!”

Lelaki tua itu tertawa terbahak-bahak. “Jadi kau akan membuangku, Palupi?”

Palupi tidak menjawab, dia melengos memandang ke arah jendela. Dadanya yang terbuka ditutupi dengan selembar kain batik. “Pergi kau dari sini, Pak Tua! Aku muak melihat wajahmu!”

Dan lelaki tua itu pun pergi meninggalkan Palupi dengan tertawa-tawa, “dasar bodoh!” umpatnya saat berada tepat di ambang pintu.

Perkataan pengemis tua itu seperti sebuah kutukan Dewa. Keesokan harinya, ketika Palupi selesai menenggak air seni sebanyak tiga sendok makan, lalu dia menghadap cermin untuk berias. Namun sepertinya dia tak mengenali wajahnya sendiri. Di dalam cermin itu, Palupi melihat hidungnya melorot seperti hasil suntikan silicon yang leleh. Rambutnya acak-acakan walau sudah disisir berkali-kali.
Bibirnya dower, hitam, memar-memar seperti maling yang habis dipukuli orang sekampung, “Ada apa ini?” Palupi bertanya-tanya. Lamunannya buyar ketika dia dikejutkan oleh suara pintu di ketuk, “Mbak, acara akan segera dimulai, cepatlah keluar!”

“Iya, tunggu sebentar.” Lalu Palupi segera berhias. Dipakainya bedak yang terlalu putih untuk mentupi wajahnya yang hitam hingga menyerupai topeng. Dibubuhkan aye shadow sehingga matanya seperti mata badut. Dan rambutnya di sanggul namun sayang sanggulnya miring. Palupi gugup namun sudah tak mungkin baginya untuk membatalkan pertunjukan. Bagaimana pun dia harus tampil dan ketika suara gendang memanggil-manggilnya untuk segera meronggeng dan menguras uang dari setiap lelaki hidung belang, dia melangkah dengan gentar.

Seluruh hadirin melongo menyaksikan ronggeng mereka belepotan di tengah kalangan. Bagaimana mungkin orang seperti dia adalah ronggeng ternama? Lihatlah itu, bibirnya hanya berhias lipstick di bagian atasnya saja. Bibir bagian bawah tetap putih tertutup bedak. “Hai, kau! Mau meniru geisha, penari Jepang itu ya?” seluruh hadirin tertawa-tawa. Palupi salah tingkah. Matanya menatap nanar ke arah penonton.

“Siapa kau, ronggeng jelek?” teriak salah seorang penonton. Palupi semakin bingung. Bagaimana mungkin mereka lupa padanya? Palupi meraba dirinya sendiri, meraba sanggulnya dan, sanggul itu menggelinding di atas lantai. Semakin meledaklah tawa para penonton.

“Bunyikan gendangnya!” pinta Palupi kepada para wiyaga. Namun tak satu pun yang mau menuruti. “Aku ini Palupi. Aku ingin menari!” tawa berderai-derai dan, sekonyong-konyong sebuah sandal jepit melayang tepat di wajah Palupi. Dia menangis sesenggukan. Dalam hati dia mengharap pengemis tua itu hadir menolongnya. Dan di bawah pohon rambutan di emperan sebuah rumah warga desa, seorang lelaki tua tertawa-tawa, “dasar bodoh! Bodoh! Ambisimu telah melumpuhkan logikamu. Sebenarnya, kamu sendiri yang membuat bencana atas dirimu sendiri Palupi! Bagaimana mungkin seorang perempuan pintar mau meminum air seninya sendiri?” tawanya meledak lagi. Dengan terpincang-pincang dia melangkah pergi meninggalkan keramaian itu.

“Palupiii, Palupi! Kini, apa lagi yang ingin kau tunjukkan pada dunia, Palupi?!”
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : DEWI BUMI

Tinggal di Surabaya aktif sebagai penulis lepas diragam media, termasuk di media online dan juga bloger

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 564,870

web server monitoring service RSS