Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ] [ Maps ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Naiya Mara'dia, tammatindoi di bongi, tarrare di allo, namandandang mata dimamatanna daung ayu, dimalimbongna rura, dimadzinginna lita', diayarianna banne tau diatepuanna agama"
Sesungguhnya seorang raja, tidak akan terlena dalam lelap tidur di keheningan malam, tidak akan berdiam diri atau berpangku tangan di waktu siang hari, namun harus berpikir dan berupaya sera berikhtiar untuk meningkatkan hasil perikanan di tambak, terciptanya ketentraman dan kedamaian demi kelangsungan hidup manusia serta sempurnanya agama
KOLOM
Banjir Bandang, Tanggul Roboh dan yang Sisa di Tenda Pengungsian
SulbarDOTcom - Banjir Bandang, Tanggul Roboh dan yang Sisa di Tenda Pengungsian


 Penulis
: FRENDY CHRISTIAN
 Jumat, 22 April 2016 00:11:39  | Dibaca : 882 kali
 
Sulbar.com - Kali ini sore di Mamasa agak berbeda dengan sore sebelumnya.  Ya, sebuah sore yang agak buram warnanya, pula sendu nadanya. Bahkan nyaris miris. Betapa tidak, Kota Mamasa yang dibelah oleh sungai Mamasa itu dan sebelumnya menawarkan panorama indah dengan liukan air yang jernih. Ditambah lansekap tanggul yang berdiri kokoh di kiri dan kanan bantaran sungai Mamasa itu.

Namun semuanya sontak dan mendadak berubah. Bukan karena kota ini tengah bersolek sebagai persembahan untuk sebuah hari perayaan atau tentang persembahan untuk seorang pembesar yang hendak datang. Namun petaka banjir itu datang seketika dan amat begitu mendadak. Penanggalan ketika itu mencatat tanggal 15 April Jumat Malam. Ya, sebuah malam yang naas dan telah merubah begitu banyak ihwal dan panorama di kota pegunungan yang berhawa dingin ini.

Air yang dulunya begitu jernih kini telah berubah keruh, rumah-rumah warga yang berada di bantaran sungai itu beberapa diantaranya mulai tampak reyot setelah hampir tersapu ludes oleh banjir. Kini rumah-rumah itu tak lagi berpenghuni. Penghuinya beranjak pergi, takut banjir susulan datang dan ikut menyapu mereka. Sungguh kegirangan para penghuni rumah-rumah di bantaran sungai itu kini berganti dengan duka dan rasa was-was jika hujan kembali turun.

Tanggul  yang dulunya berdiri kokoh yang konon diperuntukkan sebagai proyek normalisasi sungai Mamasa dan baru saja selesai dikerjakan beberapa bulan lalu. Dan konon juga ikut menelan anggaran miliaran rupiah itu akhirnya harus mengalah. Ambrol dan tak kuat lagi bertahan sebagai dewa penolong.

Tanggul-tanggul itu kini sisa kepingan setelah hancur dan roboh. Meraib dan lalu lenyap diseret air. Dana milyaran uang negara itupun kini meraib disapu derasnya air. Gelontoran dana negara itu kini seakan telah pergi bersama air yang keruh menuju muara sungai yang begitu jauh.

Pertanyaan kini adalah, siapa yang akan bertanggung jawab? Adakah semua akan memungkinkan untuk diusut setelah begitu usai dibangun, lalu ambruk seketika. Lantas bagaimanaah sesungguhnya perencanaan normalisasi sungai Mamasa ini. Dan bagaimana pula pembangunannya? Entahlah.
 
Ya, mau bagaimana lagi. Derasnya air sungai Jumat malam itu seakan menjadi cermin betapa kerasnya ancaman kehidupan yang harus dijalani bagi masyarakat yang bermukim di bantaran sungai. Meskipum derasnya ancaman, tak ada pilihan lain bagi warga untuk tetap kembali dan tinggal di situ sebab bagi mereka sudah tidak ada tempat yang jauh lebih layak lagi bagi mereka untuk berjualan demi menghidupi keluarganya.

Kulangkahkan kakiku menyusuri kota ini. Kupandangi tenda warna-warni yang berada di dalam lapangan sepak bola Mamasa itu. Jejeran tenda yang kini menjadi rumah kedua bagi para pengungsi korban bencana.

Mataku melotot kedalam tenta mereka dan segera kuarahkan lensa kamera di gengamanku. Kupandangi mereka satu persatu. Ada yang sementara menyusui anak bayinya. Tak sedikit pula yang tengah menyusun barang dan benda-benda miliknya.

Ya, kini meraka telah menginap di tenda pengusian selama lima hari, tentu saja dengan hanya beralaskan tikar plastik dan dinding tripleks di kelilingi barang milik mereka. Dari air mukanya terbaca bahwa di kepala dan hati mereka kini tersisa satu pertanyaan, sampai kapan akan bertahan untuk tinggal disitu?

Selebihnya adalah, harapan itu kembali hanya bisa digantungkan kepada pemerintah untuk turun tangan meringankan beban yang tengah mereka pikul. Mereka berharap pembuatan tanggul permanen demi  mengantisipasi banjir susulan disegerakan. Sehingga para korban bencana, kelak tidak akan lagi menjadi pemandangan yang memprihatinkan oleh kita semua.
 
Tag : mamasa
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : FRENDY CHRISTIAN

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, dirinya juga banyak terlibat di berbagai kegiatan pencerahan dan penguatan kapasitas masyarakat dan di dunia kemahasiswaan di Mamasa

ARTIKEL TERKAIT
Bantuan PKH Disalurkan, Ratusan Masyarakat Padati Kantor POS
Dinginya Mamasa, To Pembuni dan Eksotika Mambuliling
Jelang Pilgub Sulbar, KPU Mamasa Lakukan Peyortiran Surat Suara
Merah Putih Berkibar di Gunung BUNTU MUSSA - MAMASA
Longsor, Sebuah Rumah Nyaris Jatuh Ke Sungai
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
    Catatan :
No Ads, No Spam, No Flood please !
Mohon tidak menulis iklan, spamming dan sejenisnya.
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 752,973

web server monitoring service RSS