Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Bismillah akkeq letteqna Alepuq pelliaqna Turang loana Lailaha Illallah."
Bismillah angkat kakinya Alif langkahnya Tutur katanya Lailaha Illallah
PERISTIWA
Dari Pengajian Cak Nun dan Pergelaran Kiai Kanjeng di Balanipa
SulbarDOTcom - Dari Pengajian Cak Nun dan Pergelaran Kiai Kanjeng di Balanipa
Cak Nun, Syamsul Samad, Jamil Barambangi dan Chuduriah Sahabuddin doa Bersama

 Minggu, 1 Mei 2016 17:22:48  | Dibaca : 885 kali
 
Sulbar.com - Sekitar dua ribuan jamaah yang berasal dari berbagai daerah tampak menyemut dan memadat di Lapangan Sepak Bola Desa Bala Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar. Tak heran, karena malam itu, 30 April 2016 adalah malam pergelaran Risalah Cinta Emha Ainun Nadjib bersama Kelompok Kiai Kanjeng.

Acara yang dibesut oleh Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Barat bekerja sama dengan Kenduri Cinta Indonesia dan Majelis Masyarakat Maiyyah Mandar itu tampak pula dihadiri oleh sejumlah tokoh Sulawesi Barat. Tak kurang Jamil Barambangi Asisten Satu Provinsi Sulawesi Barat, Syamsul Samad Ketua Komisi Satu DPRD Provinsi Suawesi Barat dan Chuduriah Sahabuddin Rektor Universitas Al Asyariah Mandar Sulbar juga Najamuddin Ibrahim, mantan Wakil Bupati Polewali Mandar.

Menariknya acara yang dimulai sekitar pukul 19.39 dan berakhir pada pukul 01.30 dini hari itu tidak saja diisi dengan sejumlah tembang-tembang nomor andalan dari Kiai Kanjeng tetapi juga diisi dengan pengajian yang dipandu langsung oleh Emha Ainun Nadjib atau yang karib disapa Cak Nun.

Selain Cak Nun yang memaparkan pandangan keagamaan serta tafsir-tafsir sosial kebudayaannya, juga secara khusus menghadirkan Kiai Muzammil yang sesekali tampak dipersilahkan oleh Cak Nun untuk memberikan petuah-petuah berdasarkan dalil-dalil naqli yang dikutip dari Al Quran dan Hadits serta kisah-kisah para alim ulama.

Syamsul Samad yang memberika sambutan pada sesi awal acara mengatakan, risala cinta Cak Nun dan Kiai Kanjeng yang dibesut pada malam itu murni berangkat dari keinginan untuk kembali memintal ingatan bersama manusia Mandar terhadap kehebatan tanah Mandar yang dihuni oleh para waliullah.

"Saya kira malam ini, kehadiran Cak Nun dan Kiai Kanjeng bersama kita malam ini adalah semacam upaya baik untuk kembali menziarahi sejarah panjang kehadiran para waliullah, sebut misal Imam Lapeo, KH. Muhammad Shaleh dan sejumlah kiai-kiai besar dari tanah ini yang setiap saat berkat doa dan keagungungannya selalu menjaga daerah kita sebagai daerah yang beradab. Acara malam ini adalah murni acara yang sama kita harapkan menjadi cara kita menghadirkan cinta dan menyemaikan kebaikan. Dengan tetap berusaha untuk bersih dan lepas dari anasir-anasir politik di tengah Sulbar yang sebentar lagi akan ber-Pilkada Gubernur," tutur Syamsul Samad.

Syamsul Samad menjelaskan, Cak Nun secara khusus juga memiliki rekatan sejarah dengan tanah Mandar, hal itu terbukti di berbagai momentum Cak Nun selalu mengatakan bahwa dirinya adalah orang Mandar. "Saya kira ini adalah bukti bahwa Cak Nun dan Mandar tidakah bisa dipisahkan, belum lagi kenyataan sejarah pembentukan Sulbar dulu, Cak Nun adalah aktor penting yang ikut terlibat seara serius di dalam pendirian Sulbar sebagai provinsi," urainya disambut tepuk riuh hadirin.   

Selain Syamsul Samad, pada sesi awal Jamil Barambangi yang hadir mewakili Gubernur Sulawesi Barat dalam sambutan lepasnya juga mengatakan, dengan kehadiran Cak Nun semoga Mandar dan Sulbar kembali bisa menghargai nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tanah ini. Tentu saja berlandaskan pada agama yang dianut oleh wara Sulbar.

"Mandar adalah tanah budaya, maka malam ini kita sama mencoba mengagungkan cinta. Menyatukan persepsi dalam cinta dan kebaikan bersama bagi pembangunan tanah Mandar dan Sulawesi Barat. Secara khusus, melalui acara ini, saya meminta dengan rendah hati tentu saja dengan persetujuan Pak Samsul Samad, kiranya Cak Nun dan Kiai Kanjeng kembali bisa hadir di Sulbar. Tepatnya di Mamuju pada acara ulang tahun provinsi nanti," urainya Jamil juga disambut tepuk riuh warga pengajian yang hadir malam itu.

Cak Nun: Saya Orang Mandar

Sementara itu, pada sesi kedua Cak Nun dalam penjelasannya mengatakan, dirinya amat sangat mencintai Mandar, "saya sangat cinta dengan Mandar. Menurut Rasululah, orang yang pertama dan diprioritaskan masuk surga adalah orang yang mau mempersaudarakan dirinya dengan orang lain. Mereka bukan saudara sedarah, tetapi mau mau bersaudara".

Selain itu itu Cak Nun juga mengatakan, bahwa antara dirinya dan Mandar telah terdapat jalinan persaudaraan yang begitu panjang, "saya masuk pertama ke sini (Mandar-red) 39 tahun yang lalu. Saya mempersaudarakan diri saya dengan orang Mandar, bahkan ketika Pak Syamsul Samad yang memberian sambutan tadi masih duduk di sekolah dasar".

Bagi Cak Nun, Mandar berbeda dengan daerah-daerah lain di Sulawesi seperti Makassar dan Toraja. Mandar diberi anugerah kekuatan agama dan kekuatan mistisisme. Sehingga mereka memiliki karakter kuat, salah satunya dilambangkan oleh badik.

"Meskipun Pak Setprov Sulbar tadi menggambarkan bahwa di tahun 80-an Mandar diartikan dan dipahami orang dengan ‘mandi darah’. Tetapi sejak 90-an, Mandar berubah diartikan ‘manis dan ramah’. Sebagaimana terhadap carok Madura, persoalan bukan terletak pada bendanya melainkan prinsip yang dianutnya benar atau tidak," tutur Cak Nun.

Tentang hal ini, sejak awal pergaulannya di sini tahun 87 Cak Nun sudah melihat langsung bagaimana sehari-hari orang Mandar mendayagunakan badik. Memang konflik antar kelompok bukan tidak pernah terjadi bahkan sering, dan dalam lapangan nyata ini, Cak Nun ikut berusaha melerai ‘peperangan’ atau konflik itu. Bersama Teater Flamboyan, beliau ikut mengasah mutiara-mutiara yang masih berselimut ‘kegelapan’ menjadi bersinar dan berpendar kekuatan personal dan sosialnya.

Bahkan pada sesi kedua itu, Cak Nun juga tampak meminta anak-anak maju ke depan. Tanpa kesulitan dari beberapa titik anak-anak usia SD itu langsung maju. Diminta membaca surat pendek al-Quran, mereka lancar, dan masing-masing menampakkan style-nya sendiri-sendiri. Kendatipun Cak Nun melihat hal itu sebagai cermin kekuatan Islam. Lalu diinformasikan bahwa di dalam Jawa ada unkapan Jowo digowo, Arab digarap, Barat digarap. Artinya beragama tidak berarti harus membuang keindahan budaya sekalipun tetap harus kritis pada kekuatan yang datang dari Barat misalnya. Tidak butuh waktu lama sesi pengayoman Cak Nun bersama anak-anak malam ini.

Tetapi, dengan begitu orangtua mereka, juga semua orangtua melihat bagaimana anak-anak memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan diri di depan banyak orang. Salah seorang senior di sini sempat menceritakan bahwa video berisi diskusi Cak Nun dan Dokter Eddot tentang pendidikan anak sepuluh tahun lalu selalu diputar untuk para guru pendidikan dasar atau usia dini serta para orang tua itu, dalam berbagai sarasehan atau seminar parenting. Materi-materi dalam video itu dijadikan rujukan utama.

Sejak awal dipersilakan oleh pembawa acara, Cak Nun langsung mengenakan sandalnya dan tidak naik ke panggung, melainkan berdiri di antara panggung dan jamaah. Beliau bergerak bebas, kapan perlu ke sana, akan ke sana, perlu ke sini, tinggal ke sini. Saat ingin duduk di panggung, beliau duduk sembari kakinya terjuntai ke tanah, bahkan beliau tidak canggung-canggung duduk ndodok di antara jamaah saat menyimak Mas Imam Fatawi bernyanyi. Beliau membaur, menyatu, at home, merdeka, seperti di rumah sendiri, bebas, dengan ekspresi kebebasan yang tak pernah atau tak mungkin terlihat di Padhamgmbulan atau Mocopat Syafaat.

Mengerti persis “etno-takdir” orang-orang Mandar, maka di awal Cak Nun langsung masuk ke jiwa-jiwa mereka. Dengan beberapa suaranya berubah menahan tangis. Beliau mengajak semuanya masuk kepada cinta Allah, cinta Rasulullah, cinta alam, dan cinta Mandar. Orang-orang Mandar yang hadir ini diajak melantunkan bersama-sama surat al-Fatihah, Qul ‘audzu birobbin naas, qul ‘audzu birobbil falaq, qul huwallahu ahad, shalawat Nabi, dan Innama amruhu idza aroda syai-an an yaquula lahu kun fayakun. Cak Nun mendoakan agar mereka tidak dijajah oleh orang-orang yang mengatur pemegang kekuasaan, serta anak-anak mereka dijaga oleh Allah.

Bergembira bersama

Ya, malam ini adalah malam Risalah Cinta Cak Nun dan KiaiKanjeng di Jazirah Mandar. Acara ini diinisiatifi oleh Pemprov Sulawesi Barat. Hal yang sangat bisa dimaklumi, sebab Cak Nun adalah orang yang berperan penting dalam terbentuknya Sulbar sebagai provinsi baru pemekaran. Beliau yang ‘ndudul’ sedikit Depdagri dengan sentuhan yang sangat sederhana, ringkas, dan tidak rumit. Rapa-rapat justru lebih banyak berlangsung sesudah disetujuinya Sulbar sebagai provinsi baru. Tahun ini Sulbar akan memasuki usia ke-13. Pak Setprov menyampaikan harapannya agar saat ulang tahun tersebut bisa hadir di Mamuju.

Risalah cinta tersampaikan dalam banyak cara. Ungkapan rasa dan kata. Juga ada melalui gerak dan sorot mata. Kedalaman yang terwakili oleh komunikasi. Dan tak kalah pentingnya, adalah musik. Musik KiaiKanjeng. Mbak Hijrah telah berkolaborasi dengan anak-anak kecil tadi bawakan lagu Mandar berjudul “Tenggan-tenggang Lopi” yang berarti mengayuh perahu. Lagu ini memotivasi anak-anak bukan sekadar punya cita-cita melainkan punya nadzar. Yaitu mencita-citakan sesuatu, dan sesudah cita-cita itu tercapai dia akan mewujudkan atau melaksanakan nadzarnya. Dengan nadzar, ia akan berjuang keras meraih cita-cita, dan memenuhi nadzar adalah sebuah kenikmatan tersendiri yang tak bisa tergantikan.

Hijrah adalah putri asli Tinambung Mandar. Tahun 2000-an awal kuliah di Yogyakarta dan aktif sebagai vokalis KiaiKanjeng yang khususnya ditugasi Cak Nun membawakan shalawat Mandar. Selepas kuliah, ia kembali ke Mandar dan bekerja di tanah kelahirannya. Sewaktu perjalanan Safinatun Najah 2011, di hari terakhir menjelang pulang ke Jogja, pagi-pagi sekali pukul 03.00, rombongan dijamu makan di rumah Mbak Hijrah–disebut sarapan pagi terlalu awal, disebut makan malam kemalaman, tetapi Cak Nun dan rombongan memenuhi ikromudh dhuyuf-nya keluarga Hijrah.

Di Mandar ini, untuk kali pertama jamaah menikmati keindahan komposisi KiaiKanjeng pada nomor One More Night-nya Maroon 5. Aktraktifnya Mas Doni, eksposisi per alat musik KiaiKanjeng membuat mereka tak bisa mengelak buat mengikuti irama dan nuansanya. Bahkan terlihat remaja-remaja Hadroh Roudlotul Jannah yang mengenakan baju putih, bersarung, dan berselempang surban, jadi ikut setengah “heboh” gembira, ikut bertepuk tangan sebagai bagian hidup dari lagu ini. Bahkan di sela-sela eksposisi musikal, Mbak Hijrah ikut menyisipi dengan lantunan lagu Mandar yang dibawakan tadi.

Ilmu-ilmu banyak dilewatkan melalui contoh-contoh pengalaman yang dialami Cak Nun, selain melewati serpih-serpih fenomena atau peristiwa yang mampu ditangkap kandungan ilmunya. Retorika yang bagus dan matang dari pembawa acara, Pak Wakil Rakyat Syamsul Samad, dan Pak Sekretaris Daerah, Qariah Mandar yang menjuarai MTQ Internasional 2004 di Malaysia, dan pertanyaan-pertanyaan mendasar dari penanya. Dua dari penanya itu adalah mahasiswa dan polisi. Mahasiswa ini berombongan dengan temannya jauh-jauh datang ke Balanipa dari Makassar naik motor berangkat pukul 00.00 dinihari dan menjelang maghrib tadi sampai di lokasi. Mereka datang untuk belajar, menyimak, bertanya, dan memanggil Cak Nun dengan panggilan ‘Ayah’. Dan belum pernah sepertinya polisi ikut bertanya sebagaimana jamaah lainnya. Dia polisi yang ikut bertugas mengawal acara ini. Pertanyaannya pun radikal: apakah Rasulullah pernah menshalawati dirinya sendiri. Polisi-polisi itu juga ikut mendengarkan pengajian malam ini dengan baik.

Apakah Rasulullah pernah menshalawati dirinya sendiri


Kiai Muzammil pun oleh Cak Nun ditempatkan ‘referensi’ yang diminta menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan nash. Salah satunya adalah ayat ‘qul in kuntum tuhibbunallaha fat tabi’uuni yuhbibkumullah’ (katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku). Kiai Muzammil menjelaskan peristiwa di balik ayat ini. Ayat yang digunakan untuk menggambarkan mengapa orang-orang Mandar dekat dengan agama, pandai mengaji, dan lain-lain: tak lain karena mereka mencintai Allah.

Lagu KiaiKanjeng yang diaransemen dan dengan lirik berbahasa Mandar adalah “Sing Jembar Atine” yang dalam bahasa Mandar berbunyi “Malimbong Atena”. Proses penerjemahannya berlangsung singkat tapi sebisa mungkin mendekati akurat kandungan muatannya; belajar melantunkannya juga dalam waktu cepat antara Mbak Hijrah dan para vokalis KK. Lagu ini digubah dengan penuh rasa penghormatan dari lagu Bi Ki Dude (bernama asli Fatima bin Baraka) perempuan sepuh dari Tanzania yang memiliki karakter suara yang khas. Sangar apik dan mengesankan kolaborasi rohani Tanzania-Mandar-Yogyakarta.

Nomor-nomor lain juga telah dipersembahkan kepada masyarakat Mandar: Marhaban, Sebelum Cahaya, Asmara (disumbangkan oleh salah seorang jamaah perempuan Mandar), dan beberapa nomor lain. Terpenting pula adalah beberapa shalawat sublim yang dipimpin langsung oleh Cak Nun. Semua nomor ini menyertai Cak Nun memaparkan konsep-konsep mendasar: manajemen akal-hati-nafsu; wong pinter-wong baik; paseduluran dan kegembiraan; Muhammad sebagai Rasul, Nabi, ‘Abdan, dan Insan, dan konsep-konsep dasar lain yang perlu dipahami dan dijadikan pegangan.

Pukul 00.30 Cak Nun mengajak seluruh hadirin berdiri dan berdoa, memohon agar Allah memberikan bobot-bobot khotmil Quran dalam setiap hal yang kita lakukan. Bersama-sama mereka melantunkan Do’a Khotmil Quran diiringi musik KiaiKanjeng. Saat cek suara sore tadi seseorang bernama Hambali mengatakan dari Tinambung, memandangi gamelan KiaiKanjeng, sambil menoleh ke Mas Alay. Dia bilang, besi-besi yang dipakai gamelan KiaiKanjeng adalan besi-besi bertuah penuh doa, bukan besi-besi biasa, tapi besi-besi pilihan yang di dalamnya terkandung doa-doa yang mujarab.

Sedari dulu memang konsep Cak Nun cukup jelas: mengajak apapun untuk masuk surga, termasuk kayu, besi, dan alat-alat musik. Dan alat-alat musik KiaiKanjeng sudah ribuan kali berproses membantu proses pen-surga-an dan perohanian bagi yang mendengarkan maupun yang memainkannya.

Usai doa bersama, Hijrah dipersilakan mengiringi kepulangan jamaah dengan nomor yang dulu sering dibawakannya, yakni shalawat Badar dalam cengkok dan lagu Mandar.

Di dalam doa penutupnya Cak Nun menengadahkan tangan, memejamkan mata, dan menyampaikan kalimat kepada Allah yang bermula dari kesadaran akan Maha Lembutnya Allah: “Engkau Maha membaca Ya Allah. Bacalah keinginan kami Ya Allah.”  (sebagian teks dikutip dari caknun.com)
[YAT/YAT]
 
Tag : polman
 
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 565,818

web server monitoring service RSS