Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ] [ Maps ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Inditia Tummuane Bannang Pute Sarana Melo Dicingga Melo Dilango-lango"
Ini dia lelaki Mandar, Pemberani dan pantang surut langkah, Siap menghadapi setiap tantangan yang menghadang, Apapun jua bentuknya
PERISTIWA
Giliran Tokoh Adat Mamasa Respon Kasus Kekerasan Seksual
SulbarDOTcom - Giliran Tokoh Adat Mamasa Respon Kasus Kekerasan Seksual
Maurid Genggong, Tokoh Adat Tawalian Timur Mamasa

 Penulis
: FRENDY CHRISTIAN
 Selasa, 24 Mei 2016 10:16:28  | Dibaca : 1162 kali
 
Sulbar.com - Kasus asusila yang mengakibatkan SP menjadi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh BL ayah kandungnya sendiri, hendaknya ditangani oleh hukum adat sebagaimana kebiasaan dan tradisi adat yang berlaku. Kendati proses hukum positif juga tetap berjalan sebagaimana yang diatur oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pandangan itu dikemukakan oleh, Tokoh Adat Tawalian Timur, Maurid Genggong, Senin 23 Mei kemarin.

Maurid mengatakan, upaya mendudukkan adat kebiasaan itu harusnya dilakukan agar tidak berdampak pada musibah lain yang akan terjadi di dalam wilayah adat. "Kami telah dengan sengaja memanggilnya (BL-red). Sebab jika ini tidak dilakukan, kami percaya akan menyebabkan musibah di kampung bila tidak ditangani melalui tradisi yang ada," tutur Maurid.

Kendati demikian, Maurid juga menjamin, tidak akan ada pengucilan terhadap korban kekerasan seksual oleh ayah kandungnya sendiri. Bahkan menurutnya, semua pihak kini ikut prihatin atas peristiwa a susila yang yang menimpa SP.

Bahkan menurut Maurid, Pemerintah Kabupaten Mamasa, melalui Bupati Mamasa, telah pula menghimbau melalui lemabaga adata Mamasa agar tokoh masyarakat turun tangan dan ikut mengambil sikap adat. "Sehingga untuk jenis masalah seperti ini, biasanya pelaku (BL-red) harus mengorbankan satu kerbau untuk disembelih lalu dikuburkan atau dihanyutkan ke sungai. Sebab sebagaimana pemahaman adat, simbol tersebut merupakan gambaran masalah yang telah dihanyutkan atau di kubur ke dalam tanah. Khusus untuk kerbau yang dikorbankan itu, dalam pemahaman adat jika dagingnya di makan kelurga korban atau keluarga pelaku, diyakini secara adat akan kembali menghadirkan masalah. Nah, ritual seperti ini, biasanya dikenal dengan bale na ande asu".

Maurid mengatakan, kini, orang tua atau pelaku telah sepakat dan sedang mencari kerbau lotong (hitam-red) sebagai sanksi bagi keluarga pelaku. Sedangkan khusus untuk korban (SP-red) masih menurut Maurid, tidak akan melahirkan persoalan baru, seperti dikucilkan oleh warga.

"Sebab sebagai korban,  dalam upacara adat nantinya juga akan dilakukan penyucian nama baik korban, juga penyucian keluarganya dan kampung halamannya. Yang untuk upacara adatnya itu, akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini," urai Maurid.

Anak SP kini Dirawat Sepupunya

Sementara itu, Deppa, Kepala Dusun Rea yang masuk dalam wilayah Talambai Desa Tawalian Timur juga mengungkapkan, terkait pengucilan atau sanksi sosial terhadap SP tidak akan terjadi, sebab dia hanya korban. Yang justru membutuhkan perhatian dan simpati semua kalangan.
 
"Terbukti kini, malahan begitu banyak warga yang ikut prihatin terhadap SP yang nyata telah menjadi korban perilaku asusila yang dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri," jelas Deppa.

Berbeda dengan Deppa, Daud paman sekaligus pendamping SP dalam kasus itu mengatakan, hingga kini SP belum dapat dibawa ke Talambai sebelum proses hukum-nya tuntas karena jarak wilayah Talambai sangat jauh dari kota sekira 25 kilo meter.

Sedangkan khusus soal pendidikan SP, masih menurut Daud, telah dikoordinasikan ke Kepala Sekolah SMP Negeri II Tawalian yang bertempat di Talambai tempat SP bersekolah. "Ia kami telah merkomunikasi dengan Pak Pelipus selaku kepala sekolah SP dan dia telah berjanji, tahun depan SP akan  diikutkan ujian nasional. Sebab untuk saat ini tidak lagi memungkinkan, utamanya karena kondisi goncangan kejiwaan SP," urai Daud.

Saat ditanya kondisi anak SP, Daud mengatakan, anak yang lahir dari akibat asusila dan menjadikan SP sebagai korban itu, kini telah berusia satu bulan lebih dan berada dalam kondisi baik. "Namun sedang dirawat sepupu korban di daerah Parak Kelurahan Tawalian kerena kondisi psikologis ibunya yang belum begitu membaik," tandas Daud yang ditemui di Dusun Tatale, Desa Tawalian Timur.
 
Tag : mamasa
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : FRENDY CHRISTIAN

Selain aktif sebagai awak redaksi SulbarDOTcom, dirinya juga banyak terlibat di berbagai kegiatan pencerahan dan penguatan kapasitas masyarakat dan di dunia kemahasiswaan di Mamasa

ARTIKEL TERKAIT
Kasat Reskrim Baru Polres Mamasa, Target Ungkap Semua Kasus
Ical dalam Pusaran Politik
57 Mahasiswa Fisip Unasman Ikuti Seminar Proposal
Kisah Evakuasi Lima Pendaki Bandung di Gandang Dewata
Dusun Nekke Desa Taupe yang Tak Putus Dirundung Bencana
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
    Catatan :
No Ads, No Spam, No Flood please !
Mohon tidak menulis iklan, spamming dan sejenisnya.
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 651,414

web server monitoring service RSS