Mengawal gagasan, peristiwa dan informasi Sulawesi Barat [ Beranda ] [ Tentang : Redaksi | Sulbar ] [ Hubungi Kami ] [ Menulislah disini ! ] [ Pedoman Pemberitaan ]

SulbarDOTcom
Kalindaqdaq (Pantun Mandar) :

"Batu toyang dilolangan Peatallangngoq-o naung Apaq nanaolai Lopinna tomasara nyawa."
Wahai batu dan karang di tengah samudera Tenggelam dan karamlah engkau Karena akan dilintasi Perahunya kelana yang merana
ULASAN
Tentang Debat Itu dan Pentingnya Budaya Kritis
SulbarDOTcom - Tentang Debat Itu dan Pentingnya Budaya Kritis


 Penulis
: MAMAN SURATMAN
 Jumat, 1 Juli 2016 13:30:11  | Dibaca : 742 kali
 
Sulbar.com - Membaca debat itu, ada rasa geli menusuk benak. Yang tadinya harus diapresiasi sebagai bentuk gagasan dari dan untuk daerah, terpaksa kiranya harus dibungkam hingga ke akar. Maaf. Semua karena inti dari isi gagasan yang sama sekali tak mencerminkan penulisnya sebagai yang terpelajar.

Berawal dari tulisan Suhardi Duka bertajuk “Perspektif Islam tentang Kemiskinan” (rakyatsulbar.co), muncul sebentuk respon atau kritik pedas—tentu tanpa cabai—dari penulis muda Andi Undu. Melalui tulisannya yang juga terpublikasikan di mimbaraspirasi.com, Undu berusaha mem-preteli bangunan logika SDK satu per satu dengan tajuk yang sangat mencolok darinya, yakni “Menebak-Nebak Logika Ekonomi Politik Bapak SDK”. Semua diulas secara gamblang, mulai dari asal-usul kemiskinan sebagai akar kesenjangan sosial, sampai pada logika investasi yang menurut hemat penulisnya sebagai bentuk logika ekonomi SDK yang mematikan sendi penghidupan.

Dari uraiannya yang cukup berbobot lagi panjang, muncullah respon balik atasnya. Semampu yang saya baca, respon balik itu menitikberatkan anggapan bahwa Undu adalah “orang suruhan”—tangan kanan atau sejenis babu mungkin—SDK. Hal itu sebagaimana nampak dari tajuknya, yakni “Aku Bahagia atas Orang Suruhanmu” (suryatopnews.com), ditulis oleh Muttaqin, aktivis Unsulbar. Saya rasa penulisnya sedikit berwatak tradisional dengan masih mempercayai pepatah “buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya”.

Dalam tulisan ini, saya sama sekali tak berpretensi untuk mengurai tulisan SDK yang sangat sarat perdebatan itu. Sebab dan lain hal, bagi saya, gagasannya masih terlalu sporadis. Dan mungkin itu pulalh yang jadi sebab mengapa Undu sendiri tak mau ambil pusing untuk tidak “menebak-nebak” saja logika ekonomi yang diwartakan SDK.

Di tulisan ini juga, sungguh saya tak mau terlibat dalam perdebatan yang nampak main “kucing-kucingan” itu. Sebab dan lain hal pula, sungguh saya tidak punya daya untuk “menebak-nebak” kembali tebakan orang. Biarlah ia nampak apa adanya. Karena toh gagasan itu juga sporadis, tak beda dengan gagasan yang direspon atau dikritiknya secara pedas, sekali lagi, pedas tanpa cabai.

Lebih-lebih lagi, saya tidak akan menanggapi tulisan Muttaqin sebagai bentuk respon atas Undu. Bukan karena ke-baper-annya dalam pandangan Undu, melainkan bahwa tulisan itu sudah pasti salah alamat. Bahwa penulisnya tak mampu mencerna tulisan-tulisan satire, ironis, atau sarkasme. Untuk apa direspon? Toh sudah terang, bukan?

Yang hendak saya tegaskan di tulisan ini adalah, sebagaimana pembuka paragraf pertama saya di atas, bahwa debat itu mengandung kegelian yang menusuk benak. Mengapa kegelian itu mencuat? Pertama, para penulisnya adalah golongan intelektual. Bisa dipastikan, mereka punya seperangkat keilmuan memadai untuk memberi respon, terlebih melalui tulisan. Kedua, mereka adalah golongan yang bernaung dalam filosofi sipamandaq: bangsa-bangsa yang harus saling menguatkan, bangsa-bangsa yang dituntut saling membesarkan, dalam dan untuk hal apapun.

Sayangnya, seperti dapat kita baca dari isi debat mereka, relasi dua potensi, yakni keilmuan dan sipamandaq, sama sekali tak muncul. Aspek keilmuannya mungkin saja ada, tetapi digunakan bukan dalam kerangka sipamandaq. Saling beradu bekal keilmuan di satu sisi, tapi saling menjatuhkan pula di sisi lainnya. Mungkinkah kita untuk tidak geli melihat debat model itu? Entahlah. Hanya yang berpikir yang mampu menilainya. Tentu secara kritis.

Untuk tidak terayu dalam debat kusir mereka, tulisan ini saya alamatnya hanya untuk memberi sedikit gambaran, meski sedikit, tentang bagaimana harusnya kita memberi respon layaknya seorang intelektual. Bahwa jiwa kritis memang hal yang harus kita utamakan, tetapi kritis dalam kerangka yang membangun. Itulah yang harus kita kedepankan bersama.

Membangun Budaya Kritis

Fitrah seorang manusia adalah berpikir. Upaya ini (berpikir) adalah upaya yang manusiawi. Tanpanya, tentulah kita (manusia) tak jauh beda dengan binatang.

Sebagai mahluk yang berakal, pantaslah kiranya jika kita menjadikan akal sebagai landasan hidup. Ketika hampir semua sumber pengetahuan di era digital seperti saat ini, entah yang sifatnya indrawi ataupun empirik tidak mampu lagi kita korelasikan, di sanalah akal menempati posisinya sebagai hal yang fungsional-fundamental.

Terkadang memang kita menghendaki sesuatu dan berusaha merealisasikannya sebagai satu kebenaran tunggal. Sayangnya, kita tak mampu mengenal terlebih dahulu mengapa hal itu kita lakukan, apa sebenarnya yang kita lakukan itu, dan bagaimana cara kita melakukannya. Di sinilah orang sering keliru ketika hendak melakukan sesuatu tapi tak mampu mengetahui alasan-alasan fundamental yang menyertainya.

Cobalah tilik sejarah peradaban manusia kita. Orang-orang besar yang kita kenal, sebut misalnya Socrates, Plato, dan Aristoteles, mereka sungguh tidak lahir dari proses kehidupan yang biasa-biasa saja. Kita harus akui bahwa mereka besar karena cara berpikir mereka yang besar. Para pemikir seperti mereka berhasil mengubah pandangan yang dulunya primitf menjadi dunia yang sangat layak huni. Hanya satu kuncinya: mereka mampu berpikir kritis!

Di sini, saya hendak mengajak mereka dan semua kalangan untuk senantiasa membangun cara berpikir yang kritis. Sebab dengan itu, berarti kita akan menggunakan pengetahuan dan kecerdasan kita secara efektif. Meski hanya akan sampai pada pendapat atau posisi yang relatif, paling tidak kita mampu mendekati sebuah kebenaran.

Tentu saja ini berbeda ketika kita tidak mau berpikir kritis (meskipun kritis tetapi tidak “sehat”), berarti kita akan dengan mudahnya membuat keputusan yang sama sekali tidak masuk akal. Kita senantiasa akan mengambil alasan yang tidak berlandas atau beralasan kuat. Padahal tujuan berpikir kritis itu hanya sederhana: menjamin, sejauh mungkin, bahwa pemikiran kita valid dan benar.

Sebagaimana kita ketahui, berpikir kritis adalah berpikir secara jernih, sehat, dan jauh dari hal-hal yang irrasional (tidak masuk akal). Berpikir jenis ini selalu berlandas pada kebenaran dan bukti-bukti yang konkrit. Lantaran ia sangat dibutuhkan, baik dalam belajar, bekerja, dan dalam semua aspek kehidupan, terutama dalam menulis, maka ia pun harus dimaknai secara tepat dan menemukan keuntungan saat kita menggunakannya. Cara itu harus membantu kita dalam menilai bobot ketepatan atau kebenaran suatu pernyataan, serta tidak mudah menelan setiap informasi tanpa memikirkan terlebih dahulu apa yang sedang kita sampaikan. Paling tidak itu yang mesti kita bangun sedini mungkin jika ingin menjadi seorang pemikir yang kritis.

Lantas bagaimana kita membangunnya? Thinking Skill: Pengantar Menuju Berpikir Kritis (Fahruddin Faiz, 2012) memberi kita jawaban yang sangat gamblang. Di dalamnya diutarakan bahwa ada beberapa hal yang mesti kita kuasai sebelum benar-benar menjadi seorang pemikir yang kritis.

Di antara hal-hal tersebut, pertama, aktivitas berpikir kritis. Seorang pemikir kritis harus mampu merumuskan pokok-pokok permasalahan dengan mencari jawaban yang jelas dari setiap pertanyaan. Ia harus mampu mengungkap fakta yang dibutuhkan dalam menyelesaikan suatu masalah melalui upaya mengetahui informasi, memakai sumber yang memiliki kredibilitas dan menyebutkannya, serta memahami tujuan yang asli dan mendasar. Ia harus mampu memilih argumen yang logis, relevan, dan akurat, dengan mencari alasan atau argumen, berusaha tetap relevan dengan ide utama, serta berpikir dan bersikap secara sistematis dengan tetap memperhatikan bagian-bagian dari keseluruhan masalahnya.

Selanjutnya, seorang pemikir kritis harus mampu mendeteksi bias berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Ia harus mencari alternatif jawaban, mengambil sikap ketika ada bukti yang cukup untuk melakukan sesuatu, dan mencari penjelasan sebanyak mungkin apabila memungkinkan.

Dan yang terakhir adalah ia harus mampu menentukan akibat dari suatu pernyataan yang diambil sebagai suatu keputusan. Situasi dan kondisi harus dilihat sebagai penyerta, sembari bersikap dan berpikir secara terbuka.

Di samping itu, hal kedua yang harus pemikir kritis ketahui adalah ciri-ciri berpikir kritis. Dalam praktiknya, ia harus menggunakan fakta-fakata secara tepat dan jujur, bukan asumsi apalagi berdasarkan pada suka atau tidak suka semata. Ia harus mengorganisisir pikiran dan mengungkapkannya dengan jelas, logis (masuk akal). Ia harus membedakan antara kesimpulan yang didasarkan pada logika yang valid dengan logika yang tidak valid.

Selain itu, ia juga harus mengidentifikasi kecukupan data, menyangkal suatu argumen yang tidak relevan dan menyampaikan yang relevan, serta mempertanyakan suatu pandangan dan mempernyatakan implikasi dari suatu pandangan. Dan yang terpenting adalah seorang pemikir kritis harus mampu menyadari bahwa fakta dan pemahaman seseorang itu selalu terbatas. Dan di luar itu semua, ia juga harus mengenali kemungkinan keliru dari suatu pendapat dan kemungkinan bias dalam pendapat itu pula.

Jadilah Pemikir (Penulis) Kritis!

Ya, seorang pemikir kritis bukan orang yang dogmatis dan bukan pula orang yang ceroboh. Ciri yang paling jelas dari sikap seorang pemikir kritis adalah keterbukaan pikiran dan keingintahuannya. Bukankah para pemikir besar lahir dari kondisi dan ciri-ciri berpikir seperti ini?

Di satu sisi, seorang pemikir kritis diharapkan mampu mempertimbangkan antara cara pandang yang ia dapatkan di luar dirinya dengan cara pandang yang ia pakai sendiri. Di sisi lain, seorang pemikir kritis juga harus mampu membedakan mana pernyataan atau informasi yang tepat dan mana yang tidak tepat. Hal ini tentu saja menuntut seorang pemikir kritis harus memiliki watak, perilaku, dan sikap yang tepat dan juga relevan.

Keterbukaan pikiran berarti bersedia mencari sebanyak mungkin sudut pandang, kemudian memeriksa aspek yang baik dan buruk dari beragam sisinya pula. Tujuannya adalah untuk memburu kebenaran, bukan mencari sebuah kesalahan. Keterbukaan pikiran juga bukan berarti semata hanya mendengar atau membaca sudut pandang yang berbeda dari diri sendiri, melainkan mampu menerima bahwa orang lain juga bisa memikirkan hal yang cenderung pada kebenaran dan kita sendiri bisa salah.

Untuk itulah, sebagai seorang pemikir kritis, kita dituntut untuk mengatasi perasaan terancam saat keyakinan atau pandangan kita ditentang atau berlawanan dengan pandangan orang lain. Ia pun harus senantiasa menyuburkan rasa ingin tahu (curiosity) dengan kemampuan untuk berpikiran terbuka, khususnya saat mempertimbangkan sudut pandang yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Dan satu lagi yang mesti kita perhatikan adalah bahwa seorang pemikir kritis hendaknya selalu ditandai dengan kerendahan hati intelektualnya. Bukan ego, tapi akal!

Apapun yang akhirnya kita yakini, harus tetap kita pandang sebagai sesuatu yang sementara (tentative). Kita harus siap memeriksa bukti dan argumen baru. Bahkan, ketika dalam pembuktian yang kita upayakan tersebut ternyata membuktikan bahwa argumen kita salah, maka kita pun harus bersedia menerimanya dan menggantinya (memperbaharui). Begitulah harus seorang terpelajar menempa dirinya sebagai agen perubahan. Selamat berpikir!
 
 
Tentang Penulis
Penulis Nama : MAMAN SURATMAN

Mahasiswa Filsafat Universitas Islam Negeri Yogyakarta, Asal Mamuju Sulawesi Barat

ARTIKEL TERKAIT
 
KOMENTAR
 
Tulis Komentar
Nama :
Email :
URL :
Komentar :
   
   
   
     
 MAIN MENU
> Home
> How to go to SULBAR
v Accomodation :
   - Hotel
   - Rumah Makan (Restaurant)
> Obyek Wisata (Destination)
> Kalender Wisata (Event Calendar)
> Directory
> Peluang Investasi (Investment)
> Perpustakaan Online (Library)
v Pemerintahan (Gov) :
   - Aparatur Pemerintah (Gov Officer)
   - Tender Online / eProcurement

 

 

Email : info [at] sulbar.com | Email Redaksi : redaksi [at] sulbar.com

Situs ini merupakan situs berita online independen seputar wilayah Sulawesi Barat
This site is an independent online news sites around the area of West Sulawesi

copyright © 2004 - 2017 SulbarDOTcom - http://www.sulbar.com/

Online sejak 16-okt-2004

Saat ini orang Online.
Jumlah pengunjung : 547,443

web server monitoring service RSS